Gunung Krakatau: Béda antara owahan

6 bèt wis ditambahake ,  4 taun kepungkur
éjaan using AWB
(éjaan using AWB)
(éjaan using AWB)
Jeblugan Krakatau nyebabaké owah-owahan iklim global. Donya nganti peteng watara loro setengah dina akibat awu vulkanis kang nutupi [[atmosfer]]. Srengéngé suminar redhup nganti setaun lawasé. Hamburan awu katon ing [[Norwegia]] nganti [[New York]].
 
Jeblugan Krakatau iki sakbeneré isih kalah dibandhingaké karo jeblugan [[Gunung Toba]] lan [[Gunung Tambora]] ing [[Indonésia]], [[Gunung Tanpo]] ing [[Selandia Anyar]] lan [[Gunung Katmal]] ing [[Alaska]]. Nanging gunung-gunung kasebut njeblug nalika populasi manungsa isih sethithik banget. Sauntara iku nalika Gunung Krakatau njeblug, populasi manungsa wis cukup padhet, sains lan teknologi wis wiwit ngrembaka, [[telegraf]] wis ditemokaké, lan kabel ngisor segara wis dipasang. Kacathet jroning sajarah yén jeblugan Gunung Krakatau iku bencana gedhé pisanan ing donya sawiséh panemon telegraf ngisor segara. Kamajuan mau, émané durung diimbangi déning kamajuwan ing babagan [[geologigéologi]]. Para ahli geologigéologi wektu iku malahan durung bisa mènèhi panjelasan ngenani jeblugan kasebut.
<!--
== Perkembangan Gunung Krakatau ==
{{cquote|Ada suara guntur yang menggelegar berasal dari Gunung Batuwara. Ada pula goncangan bumi yang menakutkan, kegelapan total, petir dan kilat. Kemudian datanglah badai angin dan hujan yang mengerikan dan seluruh badai menggelapkan seluruh dunia. Sebuah banjir besar datang dari Gunung Batuwara dan mengalir ke timur menuju Gunung Kamula.... Ketika air menenggelamkannya, [[pulau Jawa]] terpisah menjadi dua, menciptakan [[pulau Sumatera]]}}
 
Pakar geologigéologi B.G. Escher dan beberapa ahli lainnya berpendapat bahwa kejadian alam yang dicaritakan berasal dari Gunung Krakatau Purba, yang dalam teks tersebut disebut Gunung Batuwara. Menurut buku ''[[Pustaka Raja Parwa]]'' tersebut, tinggi Krakatau Purba ini mencapai 2.000 meter di atas permukaan laut, dan lingkaran pasisirnya mencapai 11 kilometer.
 
Akibat ledakan yang hebat itu, tiga perempat tubuh Krakatau Purba hancur menyisakan kaldera (kawah besar) di Selat Sunda. Sisi-sisi atau tepi kawahnya dikenal sebagai [[Pulau Rakata]], [[Pulau Panjang]] dan [[Pulau Sertung]], dalam catatan lain disebut sebagai Pulau
=== Letusan Gunung Krakatau ===
Pada hari Senin, 27 Agustus 1883, tepat jam 10.20, meledaklah gunung itu. Menurut Simon
Winchester, ahli geologigéologi lulusan [[Universitas Oxford]] [[Inggris]] yang juga penulis ''National Geoghrapic'' mengatakan bahwa ledakan itu adalah yang paling besar, suara paling keras dan peristiwa vulkanik yang paling meluluh-lantakkan dalam sejarah manusia moderen. Suara letusannya terdengar sampai 4.600 km dari pusat letusan dan bahkan dapat didengar oleh 1/8 penduduk bumi saat itu.
 
Menurut para peneliti di University of North Dakota, ledakan Krakatau bersama [[Tambora]]
Mulai pada tahun 1927 atau kurang lebih 40 tahun setelah meletusnya Gunung Krakatau, muncul gunung api yang dikenal sebagai [[Anak Krakatau]] dari kawasan kaldera purba tersebut yang masih aktif dan tetap bertambah tingginya. Kecepatan pertumbuhan tingginya selitar 20 inci per bulan. Setiap tahun ia menjadi lebih tinggi sekitar 20 kaki dan lebih lebar 40 kaki. Catatan lain menyebutkan penambahan tinggi sekitar 4 cm per tahun dan jika dihitung, maka dalam waktu 25 tahun penambahan tinggi anak Rakata mencapai 7.500 inci atau 500 kaki lebih tinggi dari 25 tahun sebelumnya. Penyebab tingginya gunung itu disebabkan oleh material yang keluar dari perut gunung baru itu. Saat ini ketinggian Anak Krakatau mencapai sekitar 230 meter di atas permukaan laut, sementara Gunung Krakatau sebelumnya memiliki tinggi 813 meter dari permukaan laut.
 
Menurut Simon Winchester, sekalipun apa yang terjadi dalam kehidupan Krakatau yang dulu sangat menakutkan, realita-realita geologigéologi, seismik serta tektonik di Jawa dan Sumatera yang aneh akan memastikan bahwa apa yang dulu terjadi pada suatu ketika akan terjadi kembali. Tak ada yang tahu pasti kapan Anak Krakatau akan meletus. Beberapa ahli [[geologigéologi]] memprediksi letusan in bakal terjadi antara 2015-2083. Namun pengaruh dari gempa di dasar Samudera Hindia pada 26 Desember 2004 juga tidak bisa diabaikan.
 
Menurut Profesor [[Ueda Nakayama]] salah seorang ahli gunung api berkebangsaan [[Jepang]], Anak Krakatau masih relatif aman meski aktif dan sering ada letusan kecil, hanya ada saat-saat tertentu para turis dilarang mendekati kawasan ini karena bahaya lava pijar yang dimuntahkan gunung api ini. Para pakar lain menyatakan tidak ada teori yang masuk akal tentang Anak Krakatau yang akan kembali meletus. Kalaupun ada minimal 3 abad lagi atau sesudah 2325 M. Namun yang jelas, angka korban yang ditimbulkan lebih dahsyat dari letusan sebelumnya.
348.872

besutan