Theravada: Béda antara owahan

36 bèt wis dibusak ,  4 taun kepungkur
Buddha -> Buda (éjaan baku), replaced: Buddha → Buda (8), Buddhisme → Buda, Vajrayana → Wajrayana (2)
c (Wirjadisastra ngalih kaca Buddha Theravada nyang Theravada lumantar kaca alihan)
(Buddha -> Buda (éjaan baku), replaced: Buddha → Buda (8), Buddhisme → Buda, Vajrayana → Wajrayana (2))
'''BuddhaBuda Theravada''', punika salah satunggiling aliran agami [[BuddhaBuda]]. Theravada asalipun saking kalih tembung ing salebeting basa Pali inggih punika : Thera lan Vada. Thera maknanipun sesepuh, lan vada maknanipun ajaran. Dados, Theravada maknanipun Ajaran Para Sesepuh. Maksudipun, Ajaranipun Sang BuddhaBuda ingkang tasih dijaga kalih para bhikkhu sepuh tanpa nambahi utawa ngurangi ingkang sampun diajarke dening Sang BuddhaBuda.
 
Sedaya ajaranipun Sang BuddhaBuda dikumpulake dados telung warna, nggeh menika: Vinaya Pitaka, Sutta Pitaka, lan Abhidhamma Pitaka. Kabeh iku ditulis dados kitab sucine sedaya umat BuddhaBuda ingkang dipun sebut Tipitaka. Kitab meniko dipun tulis nganggé bhasa Pali.
 
Ngantos menika, agama buddha aliran Theravada tasih pepanggon ing nagari Sri Lanka, Thailand, Mianmar, Laos, Kambodia.
'''Latar wingking'''
 
Sang BuddhaBuda miyos ing [[abad kaping-6 SM]]. Saksampunipun nggayuh Panerangan Sampurna ing yuswa 35 ngantos Mahaparinibbana ing yuswa 80, panjenenganipun nelasaken saumur gesangipun kanggé khotbah lan nyebaraken ajaran. Salebeting 45 taun, panjenenganipun ngasta lan khotbah siang saha wengi, mung saré kalih jam sedinten.
 
<!--
Sang Buddha berbicara dengan semua kalangan manusia: raja dan pangeran, brahmana, petani, pengemis, kaum terpelajar dan orang biasa. Ajarannya disesuaikan dengan pengalaman, tingkat pemahaman dan kapasitas mental pendengarnya. Apa yang diajarkannya dinamakan Buddha Vacana. Saat itu tidak dikenal dengan apa yang dinamakan Theravada atau Mahayana.
 
 
Setelah terbentuknya persekutuan Bhikkhu dan Bikkhuni, Sang Buddha menggariskan aturan-aturan disiplin tertentu yang disebut Vinaya sebagai pedoman bagi persekutuan tersebut. Semua ajarannya disebut Dhamma, termasuk juga wacana, sutra, khotbah kepada Bhikkhu, Bhikkhuni dan orang biasa.
 
 
'''PERSAMUAN AGUNG PERTAMA'''
----
Tiga bulan setelah Sang Buddha Mahaparinibbana, pengikut terdekatnya menyelenggarakan persamuan di Rajagaha. Maha Kassapa, Bhikkhu yang paling dihormati dan di-tua-kan, memimpin persamuan tersebut. Hadir pula, 2 (dua) orang pengikut yang berkemampuan istimewa pada dua ajaran – Dhamma dan Vinaya. Satunya adalah Ananda, teman terdekat dan pengikut Sang Buddha selama 25 tahun. Dikaruniai ingatan yang luar biasa, Ananda mampu mengulangi apa yang disampaikan oleh Sang Buddha. Lainnya adalah Upali yang mengingat semua aturan-aturan Vinaya.
 
 
Hanya dua ajaran tersebut – Dhamma dan Vinaya – yang dibawakan dalam Persamuan Pertama. Walaupun tidak ada perbedaan pendapat mengenai Dhamma (tidak termasuk Abhidhamma), terdapat beberapa diskusi mengenai aturan-aturan Vinaya. Sebelum Sang Buddha parinibbana, dia memberitahu Ananda bahwa apabila Sangha ingin memperbaiki atau mengubah beberapa aturan tidak mendasar, mereka dapat melakukannya. Akan tetapi pada saat itu, Ananda sedang sangat berduka karena Buddha akan segera parinibbana sehingga Ia tidak menanyakan kepada Sang Buddha aturan-aturan mana yang dimaksudnya tersebut. Karena anggota-anggota dari persamuan tidak mencapai kata sepakat mengenai apa yang dimaksud dengan aturan-aturan tidak mendasar, Maha Kassapa akhirnya menetapkan bahwa aturan-aturan yang telah ditetapkan oleh Sang Buddha tidak diubah dan tidak ada aturan baru yang ditambahkan. Tidak ada alasan-alasan yang diberikan untuk itu. Maha Kassapa mengatakan sesuatu, bahwa: “ Bila kita mengubah aturan-aturan, orang-orang akan berkata bahwa pengikut Yang Mulia Gautama telah mengubah aturan-aturan bahkan sebelum api pemakaman dinyalakan”.
 
 
Dalam persamuan, Dhamma terbagi atas beberapa bagian dan masing-masing bagian diserahkan kepada pengikut senior dan murid-muridnya untuk dihafalkan. Kemudian, Dhamma diajarkan oleh guru kepada murid-muridnya secara lisan. Dhamma dibaca setiap hari oleh sekelompok murid yang sering memeriksa ulang satu sama lain untuk meyakinkan tidak ada yang terlewatkan atau ditambahkan. Para ahli sejarah sepakat bahwa tradisi penuturan lisan lebih akurat daripada tulisan yang dibuat oleh seseorang menurut apa yang diingatnya setelah beberapa tahun kejadian.
 
 
'''PERSAMUAN AGUNG KEDUA'''
----
Seratus tahun kemudian, persamuan kedua diadakan untuk mendiskusikan aturan-aturan Vinaya. Tidak ada kebutuhan untuk mengubah aturan-aturan tiga bulan setelah parinibbana-nya Sang Buddha karena kecilnya perubahan politik, ekonomi atau sosial dalam periode sesingkat ini di masa itu. Tetapi 100 tahun kemudian, beberapa bhikkhu melihat kebutuhan untuk mengubah beberapa aturan tidak mendasar. Bhikkhu yang ortodoks mengatakan bahwa tidak ada yang perlu diubah sedangkan lainnya ingin mengubah aturan-aturan tersebut. Akhirnya, sekelompok Bhikkhu meninggalkan persamuan dan mendirikan Mahasanghika – Kelompok Besar. Saat ketika masih dinamakan Mahasanghika, tidak dikenal yang namanya Mahayana. Dan pada persamuan kedua, hanya hal berhubungan dengan Vinaya yang yang didiskusikan dan tidak ada perdebatan mengenai Dhamma.
 
 
'''PERSAMUAN AGUNG KETIGA'''
----
Pada abad ke-3 SM masa pemerintahan Raja Asoka, persamuan ketiga diadakan untuk mendiskusikan perbedaan pendapat di antara Bhikkhu dari aliran-aliran berbeda. Pada persamuan ini, perbedaan-perbedaan tidak hanya dibatasi pada Vinaya tetapi juga berhubungan dengan Dhamma. Pada akhir dari persamuan ini, ketua persamuan, Monggaliputta Tissa, menggubah sebuah buku berjudul Kathavatthu. Buku ini membuktikan adanya kesalahan mendasar serta pandangan dan teori yang salah yang dianut beberapa aliran. Ajarannya ini disetujui dan diterima persamuan ini sebagai Theravada. Abhidhamma Pitaka telah dimasukkan saat persamuan ini.
 
 
Setelah persamuan ketiga, anak Asoka, Bikkhu Mahinda, membawa Tripitaka beserta penjelasan yang telah dibahas dalam persamuan ketiga ini ke Sri Lanka. Teks yang dibawa ini masih tersimpan sampai saat ini di Srilanka tanpa kehilangan satu halaman-pun. Teks tersebut ditulis dalam Pali. Teks ini berpedoman pada bahasa Magadhi yang digunakan Sang Buddha. Belum dikenal dengan apa yang dinamakan Mahayana hingga periode ini.
 
 
'''MUNCULNYA MAHAYANA'''
----
Antara abad 1 SM hingga 1 M, kedua istilah Mahayana dan Hinayana muncul di Sutra Saddharma Pundarika atau Sutra Teratai Ajaran Kebajikan.
 
 
Kira-kira pada abad ke-2 M, Mahayana barulah didefinisikan secara jelas. Nagarjuna mengembangkan filosofi “kekosongan” Mahayana dan membuktikan bahwa segala sesuatunya adalah “Kosong” dalam buku kecil “Madhyamika-karika”. Kira-kira pada abad ke-4, Asanga dan Vasubandhu banyak menulis buku-buku Mahayana. Setelah abad ke-1 M, kaum Mahayana meneguhkan pendiriannya dan setelahnya istilah Mahayana dan Hinayana mulai dikenal.
 
 
Hinayana dan Theravada bukanlah suatu istilah yang sama. Theravada mengacu pada Buddhisme yang masuk ke Sri Lanka menjelang abad ke-3 SM di saat belum ada Mahayana di masa itu. Aliran Hinayana dikembangkan di India dan terlepas eksistensi dari aliran Buddhisme yang ada di Sri Lanka. Saat sekarang tidak ada lagi aliran Hinayana di belahan dunia manapun. Oleh karena itu, pada tahun 1950 World Fellowship of Buddhists yang dibentuk di Kolombo secara mutlak memutuskan bahwa istilah Hinayana harus dikeluarkan bila mengacu pada Buddhisme yang ada sekarang di Sri Lanka, Thailand, Myanmar, Kamboja, Laos, dan lainnya. Inilah sejarah singkat mengenai Theravada, Mahayana dan Hinayana.
 
 
'''MAHAYANA DAN THERAVADA'''
 
- Keduanya menerima Anicca, Dukkha, Anatta dan Sila, Samadhi, Panna
 
 
Ajaran di atas adalah ajaran paling mendasar dalam Buddhisme.
 
 
Terdapat beberapa hal yang membuat keduanya berbeda. Banyak yang mengatakan bahwa Mahayana adalah untuk mencapai Bodhisattva yang membuka jalan menuju Kebuddhaan, di mana Theravada adalah untuk mencapai Arahat. Perlu digarisbawahi bahwa Buddha adalah juga seorang Arahat. Pacceka Buddha juga adalah Arahat. Seseorang pengikut bisa juga menjadi Arahat. Teks Mahayana tidak pernah menggunakan istilah Arahant-yana, jalan Arahat. Tetapi menggunakan tiga istilah: Boddhisattvayana, Prateka-Buddhayana dan Sravakayana. Dalam tradisi Theravada, ketiganya dikenal sebagai Bodhi.
 
 
Ada yang berpendapat bahwa Theravada adalah egois karena mengajarkan orang untuk menyelamatkan diri sendiri. Apakah orang egois bisa mencapai Penerangan? Kedua aliran sama-sama menganut tiga yana atau bodhi tetapi menganggap Boddhisattva sebagai pencapaian tertinggi. Mahayana menciptakan Bodhisattva-Bodhisattva sedangkan Theravada menganggap seorang Bodhisattva adalah salah satu di antara kita yang mengabdikan seluruh hidupnya untuk mencapai kesempurnaan, yang tujuan utamanya adalah Penerangan Sempurna untuk kebahagiaan mahluk di dunia.
 
 
'''TIGA JENIS KEBUDDHAAN'''
 
== Mangga mirsani ==
* [[BuddhaBuda]]
* [[Mahayana]]
* [[VajrayanaWajrayana|Tantrayana - VajrayanaWajrayana]]
 
[[Kategori:BuddhismeBuda]]
{{buddha-stub}}
 
 
[[Kategori:Buddhisme]]
{{buddha-stub}}
352.737

besutan