Abdurrahman Wahid: Béda antara owahan

21.332 bèt wis dibusak ,  3 taun kepungkur
éjaan, replaced: pada → padha (2)
c (busak cithakan, per Special:Diff/1146451; panggantèn kosmètik)
(éjaan, replaced: pada → padha (2))
 
== Kehidupan awal ==
Abdurrahman Wahidwahid lahirlair padaing haridina ke-4kepapat danlan bulanwulan ke-8wolu [[kalender Islam]] tahuntaun 1940 diing Denanyar [[Jombang]], [[Jawa Timur]] darisaking pasangankekalihipun [[Wahid Hasyim]] danlan Solichahsolichah. Terdapatwonten kepercayaankapitadosan bahwamenawi iapiyambakipun lahirlair tanggal 4 Agustus, namunnanging kalender yangkang digunakandigunakake untukkagem menandainandai haridinten kelahirannyakelairane adalahinggih punika kalender Islamislam yangkang berartiartosipun iapiyambakipun lahirlair padawonten 4 Sya'ban, samasami dengankaliyan [[7 September]] 1940.
<!--Abdurrahman wahid lair ing dinkepapat lan wulan wolu[[kalender Islam]] taun 1940 ing Denanyar [[Jombang]], [[Jawa Timur]] saking kekalihipun [[Wahid Hasyim]] lan solichah. wonten kapitadosan menawi piyambakipun lair tanggal 4 Agustus, nanging kalender kang digunakake kagem nandai dinten kelairane inggih punika kalender islam kang artosipun piyambakipun lair wonten 4 Sya'ban, sami kaliyan [[7 September]]1940
dheweke lair kanthi nama '''Abdurrahman Addakhil'''. "Addakhil" artine "Sang Penakluk".<ref name="latar gus"/> Kata "Addakhil" ora misuwur lan diganti nama "Wahid",lan luwih misuwur kanthi celukan '''Gus Dur'''. "Gus" ya iku jeneng kehormatan khas pesantren kanggo putrane kiai kang artine "''abang''" utawa "''mas''".<ref name="latar gus"/>
 
 
Pawiyatan Wahid lanjut lan ing tahun 1954, dhéwéké malebu ing sekolah Menengah Pertama. ing taun iku, dhéweké ora munggah kelas. biyunge lajeng ngirim Gus Dur nuju [[Yogyakarta]] kanggo neruskake pawiyatane. ing tahun 1957, sawise lulus saka SMP, Wahid pindah nuju [[Magelang]]kanggo mulai Pawiyatan Muslim ing Pesantren Tegalrejo. dhéweké ngembanagaken reputasi minangka murid berbakat,namatkake pawiyatan pesantren ing wektu rong taun (haruse empat tahun). ing taun 1959, Wahid pindah nuju Pesantren Tambakberas ing Jombang. ing kana, sawetara nglanjutke pawiyatan dhewekan, Abdurrahman Wahid uga narima pakaryan kapisan dadi guru lan besuke minangka kepala sekolah [[madrasah]]. Gus Dur uga makarya dadi jurnalis majalah kayata ''Horizon'' dan ''Majalah Budaya Jaya''.
 
== Pendidikan di luar negeri ==
Pada tahun 1963, Wahid menerima beasiswa dari Kementrin Agama untuk belajar di [[Universitas Al Azhar]] di [[Kairo]], [[Mesir]]. Ia pergi ke Mesir pada November 1963. Meskipun ia mahir ber[[bahasa Arab]], Gus Dur diberitahu oleh Universitas bahwa ia harus mengambil kelas remedial sebelum belajar Islam dan bahasa Arab. Karena tidak mampu memberikan bukti bahwa ia memiliki kemampuan bahasa Arab, Wahid terpaksa mengambil kelas remedial.
 
Abdurrahman Wahid menikmati hidup di Mesir pada tahun 1964; menonton film Éropah dan Amerika, dan juga menonton [[sepak bola]]. Wahid juga terlibat dengan Asosiasi Pelajar Indonésia dan menjadi jurnalis majalah asosiasi tersebut. Pada akhir tahun, ia berhasil lulus kelas remedial Arabnya. Ketika ia memulai belajarnya dalam Islam dan bahasa Arab tahun 1965, Gus Dur kecewa. Ia telah mempelajari banyak materi yang diberikan dan menolak metode belajar yang digunakan Universitas <ref>Barton (2002), halaman 88</ref>.
 
Di Mesir, Wahid dipekerjakan di Kedutaan Besar Indonésia. Pada saat ia bekerja, peristiwa [[Gerakan 30 September]] terjadi. Mayor Jendral [[Suharto]] menangani situasi di Jakarta dan upaya pemberantasan Komunis dilakukan. Sebagai bagian dari upaya tersebut, Kedutaan Besar Indonésia di Mesir diperintahkan untuk melakukan investigasi terhadap pelajar universitas dan memberikan laporan kedudukan politik mereka. Perintah ini diberikan pada Wahid, yang ditugaskan menulis laporan <ref>Barton (2002), halaman 89</ref>.
 
Wahid mengalami kegagalan di Mesir. Ia tidak setuju akan metode pendidikan serta pekerjaannya setelah G 30 S sangat mengganggu dirinya. Pada tahun 1966, ia diberitahu bahwa ia harus mengulang belajar. Pendidikan prasarjana Gus Dur diselamatkan melalui beasiswa di [[Universitas Baghdad]]. Wahid pindah ke [[Irak]] dan menikmati lingkungan barunya. Meskipun ia lalai pada awalnya, Wahid dengan cepat belajar. Wahid juga meneruskan keterlibatannya dalam Asosiasi Pelajar Indonésia dan juga menulis majalah asosiasi tersebut.
 
Setelah menyelesaikan pendidikannya di Universitas Baghdad tahun 1970, Abdurrahman Wahid pergi ke Walanda untuk meneruskan pendidikannya. Wahid ingin belajar di [[Universitas Leiden]], tetapi kecewa karena pendidikannya di Universitas Baghdad kurang diakui. Dari Walanda, Wahid pergi ke [[Jerman]] dan [[Perancis]] sebelum kembali ke Indonésia tahun 1971.
 
== Karir awal ==
Gus Dur kembali ke Jakarta mengharapkan bahwa ia akan pergi ke luar negeri lagi untuk belajar di [[Universitas McGill]] di [[Kanada]]. Ia membuat dirinya sibuk dengan bergabung ke Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES) <ref>Barton, halaman 103</ref>, organisasi yg terdiri dari kaum intelektual muslim progresif dan sosial dhémokrat. LP3ES mendirikan majalah yang disebut ''Prisma'' dan Wahid menjadi salah satu kontributor utama majalah tersebut. Selain bekerja sebagai kontributor LP3ES, Wahid juga berkeliling pesantren dan madrasah di seluruh Jawa. Pada saat itu, pesantren berusaha keras mendapatkan pendanaan dari pemerintah dengan cara mengadopsi kurikulum pemerintah. Wahid merasa prihatin dengan kondisi itu karena nilai-nilai tradisional pesantren semakin luntur akibat perubahan ini. Gus Dur juga prihatin dengan kemiskinan pesantren yang ia lihat. Pada waktu yang sama ketika mereka membujuk pesantren mengadopsi kurikulum pemerintah, pemerintah juga membujuk pesantren sebagai agen perubahan dan membantu pemerintah dalam perkembangan ekonomi Indonésia. Wahid memilih batal belajar luar negeri dan lebih memilih mengembangkan pesantren.
 
Abdurrahman Wahid meneruskan karirnya sebagai jurnalis, menulis untuk majalah [[Majalah Tempo|Tempo]] dan koran [[Kompas (surat kabar)|Kompas]]. Artikelnya diterima dengan baik dan ia mulai mengembangkan reputasi sebagai komentator sosial. Dengan popularitas itu, ia mendapatkan banyak undangan untuk memberikan kuliah dan seminar, membuat dia harus pulang-pergi antara Jakarta dan Jombang, tempat Wahid tinggal bersama keluarganya.
 
Meskipun memiliki karir yang sukses pada saat itu, Gus Dur masih merasa sulit hidup hanya dari satu sumber pencaharian dan ia bekerja untuk mendapatkan pendapatan tambahan dengan menjual kacang dan mengantarkan es untuk digunakan pada bisnis [[Es Lilin]] istrinya <ref>Barton, halaman 108 </ref>. Pada tahun 1974, Wahid mendapat pekerjaan tambahan di Jombang sebagai guru di Pesantren Tambakberas dan segera mengembangkan reputasi baik. Satu tahun kemudian, Wahid menambah pekerjaannya dengan menjadi Guru Kitab Al Hikam.
 
Pada tahun 1977, Wahid bergabung ke Universitas Hasyim Asyari sebagai dekan Fakultas Praktek dan Kepercayaan Islam. Sekali lagi, Wahid mengungguli pekerjaannya dan Universitas ingin agar Wahid mengajar subyek tambahan seperti [[pedadogi]], [[Syariat Islam]] dan [[misiologi]]. Namun, kelebihannya menyebabkan beberapa ketidaksenangan dari sebagian kalangan universitas dan Wahid mendapat rintangan untuk mengajar subyek-subyek tersebut. Sementara menanggung semua beban tersebut, Wahid juga berpidato selama [[ramadhan]] di depan komunitas Muslim di Jombang.
 
== Nahdlatul Ulama ==
=== Awal keterlibatan ===
Latar belakang keluarga Wahid segera berarti. Ia akan diminta untuk memainkan peran aktif dalam menjalankan NU. Permintaan ini berlawanan dengan aspirasi Gus Dur dalam menjadi intelektual publik dan ia dua kali menolak tawaran bergabung dengan Dewan Penaséhat Agama NU. Namun, Wahid akhirnya bergabung dengan Dewan tersebut setelah kakeknya, Bisri Syansuri, memberinya tawaran ketiga <ref>Barton (2002), halaman 112</ref>. Karena mengambil pekerjaan ini, Wahid juga memilih untuk pindah dari Jombang ke Jakarta dan menetap disana. Sebagai anggota Dewan Penaséhat Agama, Wahid memimpin dirinya sebagai reforman NU.
 
Pada saat itu, Abdurrahman Wahid juga mendapat pengalaman politik pertamanya. Pada pemilihan umum legislatif 1982, Wahid berkampanye untuk [[Parté Persatuan Pembangunan]] (PPP), sebuah Parté Islam yang dibentuk sebagai hasil gabungan 4 parté Islam termasuk NU. Wahid menyebut bahwa Pemerintah mengganggu kampanye PPP dengan menangkap orang seperti dirinya <ref>Barton (2002), halaman 133-134</ref>. Namun, Wahid selalu berhasil lepas karena memiliki hubungan dengan orang penting seperti Jendral [[Moerdani|Benny Moerdani]].
 
=== Mereformasi NU ===
Pada saat itu, banyak orang yang memandang NU sebagai organisasi dalam keadaan stagnasi/terhenti. Setelah berdiskusi, Dewan Penaséhat Agama akhirnya membentuk Tim Tujuh (yang termasuk Wahid) untuk mengerjakan isu reformasi dan membantu menghidupkan kembali NU. Reformasi dalam organisasi termasuk perubahan keketuaan. Pada 2 Mei 1982, pejabat-pejabat tinggi NU bertemu dengan Ketua NU [[Idham Chalid]] dan meminta agar ia mengundurkan diri. Idham, yang telah memandu NU pada era transisi kekuasaan dari [[Soekarno]] ke [[Soeharto]] awalnya melawan, tetapi akhirnya mundur karena tekanan. Pada 6 Mei 1982, Wahid mendengar pilihan Idham untuk mundur dan menemuinya, lalu ia berkata bahwa permintaan mundur tidak konstitusionil. Dengan himbauan Wahid, Idham membatalkan kemundurannya dan Wahid bersama dengan Tim Tujuh dapat menegosiasikan persetujuan antara Idham dan orang yang meminta kemundurannya <ref>Barton (2002), halaman 136</ref>.
 
Pada tahun 1983, Soeharto dipilih kembali sebagai presiden untuk masa jabatan ke-4 oleh [[Majelis Permusyawaratan Rakyat]] (MPR) dan mulai mengambil langkah untuk menjadikan [[Pancasila]] sebagai Ideologi Nagara. Dari Juni 1983 hingga Oktober 1983, Wahid menjadi bagian dari kelompok yang ditugaskan untuk menyiapkan respon NU terhadap isu tersebut. Wahid berkonsultasi dengan bacaan seperti [[Quran]] dan [[Sunnah]] untuk pembenaran dan akhirnya, pada Oktober 1983, ia menyimpulkan bahwa NU harus menerima Pancasila sebagai Ideologi Nagara <ref>Barton, halaman 138</ref>. Untuk lebih menghidupkan kembali NU, Wahid juga mengundurkan diri dari PPP dan parté politik. Hal ini dilakukan sehingga NU dapat fokus dalam masalah sosial daripada terhambat dengan terlibat dalam politik.
 
=== Terpilih sebagai ketua dan masa jabatan pertama ===
Reformasi Wahid membuatnya sangat populer di kalangan NU. Pada saat Musyawarah Nasional 1984, banyak orang yang mulai menyatakan keinginan mereka untuk menominasikan Wahid sebagai ketua baru NU. Wahid menerima nominasi ini dengan syarat ia mendapatkan wewenang penuh untuk memilih para pengurus yang akan bekerja di bawahnya. Wahid terpilih sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama pada Musyawarah Nasional tersebut. Namun demikian, persyaratannya untuk dapat memilih sendiri para pengurus di bawahnya tidak terpenuhi. Pada hari terakhir Munas, daftar anggota Wahid sedang dibahas persetujuannya oleh para pejabat tinggu NU termasuk Ketua PBNU sebelumnya, Idham. Wahid sebelumnya telah memberikan sebuah daftar kepada Panitia Munas yang sedianya akan diumumkan hari itu. Namun demikian, Panitia Munas, yang bertentangan dengan Idham, mengumumkan sebuah daftar yang sama sekali berbeda kepada para peserta Munas.<ref>Barton, halaman 143</ref>
 
Terpilihnya Gus Dur dilihat positif oleh [[Suharto]] dan rezim [[Orde Baru]]. Penerimaan Wahid terhadap Pancasila bersamaan dengan citra moderatnya menjadikannya disukai oleh pejabat pemerintahan. Pada tahun 1985, Suharto menjadikan Gus Dur indoktrinator Pancasila.<ref>Barton (2002), halaman 153-154</ref> Pada tahun 1987, Abdurrahman Wahid menunjukan dukungan lebih lanjut terhadap rezim tersebut dengan mengkritik PPP dalam pemilihan umum legislatif 1987 dan memperkuat Parté [[Golkar]] Suharto. Ia menerima hadiah dalam bentuk keanggotaan MPR. Meskipun ia disukai oleh rezim, Wahid mengkritik pemerintah karena proyek [[Kasus Kedung Ombo|Waduk Kedung Ombo]] yang didanai oleh [[Bank Dunia]]. Meskipun hal ini mengasamkan hubungan Wahid dengan pemerintah, Suharto masih mendapat dukungan politik dari NU.
 
Selama masa jabatan pertamanya, Gus Dur fokus dalam mereformasi sistem pendidikan pesantren dan berhasil meningkatkan kualitas sistem pendidikan pesantren sehingga dapat menandingi sekolah sekular.<ref>Barton, halaman 162</ref> Pada tahun 1987, Gus Dur juga mendirikan kelompok belajar di [[Probolinggo]], Jawa Timur untuk menyediakan forum individu sependirian dalam NU untuk mendiskusikan dan menyedikan interpretasi teks Muslim.<ref>Barton, halaman 165-166</ref> Kritik menuduh Gus Dur mengharapkan merubah salam Muslim "assalamualaikum" menjadi salam sekular "selamat pagi".
 
=== Masa jabatan kedua dan melawan Orde Baru ===
Wahid terpilih kembali untuk masa jabatan kedua Ketua NU pada Musyawarah Nasional 1989. Pada saat itu, Soeharto, yang terlibat dalam pertempuran politik dengan [[ABRI]], mulai menarik simpati Muslim untuk mendapat dukungan mereka. Pada Desember 1990, [[Ikatan Cendekiawan Muslim Indonésia]] (ICMI) dibentuk untuk menarik hati Muslim Intelektual. Organisasi ini didukung oleh Soeharto, diketuai oleh [[Baharuddin Jusuf Habibie]] dan didalamnya terdapat intelektual Muslim seperti [[Amien Rais]] dan [[Nurcholish Madjid]] sebagai anggota. Pada tahun 1991, beberapa anggota ICMI meminta Gus Dur bergabung. Gus Dur menolak karena ia mengira ICMI mendukung [[sektarianisme]] dan akan membuat Soeharto tetap kuat.<ref>Barton (2002), halaman 183</ref> Pada tahun 1991, Wahid melawan ICMI dengan membentuk Forum Dhémokrasi, organisasi yang terdiri dari 45 intelektual dari berbagai komunitas religius dan sosial. Organisasi ini diperhitungkan oleh pemerintah dan menghentikan pertemuan yang diadakan oleh Forum Dhémokrasi saat menjelang [[Pemilihan Umum Anggota DPR dan DPRD Indonésia 1992|pemilihan umum legislatif 1992]].
 
Pada Maret 1992, Gus Dur berencana mengadakan Musyawarah Besar untuk merayakan ulang tahun NU ke-66 dan mengulang pernyataan dukungan NU terhadap Pancasila. Wahid merencanakan acara itu dihadiri oleh paling sedikit satu juta anggota NU. Namun, Soeharto menghalangi acara tersebut, memerintahkan polisi untuk mengembalikan bus berisi anggota NU ketika mereka tiba di Jakarta. Akan tetapi, acara itu dihadiri oleh 200.000 orang. Setelah acara, Gus Dur mengirim surat protes kepada Soeharto menyatakan bahwa NU tidak diberi kesempatan menampilkan Islam yang terbuka, adil dan toleran.<ref>Barton, halaman 187</ref> Selama masa jabatan keduanya sebagai ketua NU, ide liberal Gus Dur mulai merubah banyak pendukungnya menjadi tidak setuju. Sebagai ketua, Gus Dur terus mendorong dialog antar agama dan bahkan menerima undangan mengunjungi [[Israèl]] pada Oktober 1994.<ref>Barton (2002), halaman 198</ref>
 
=== Masa jabatan ketiga dan menuju reformasi ===
Menjelang Musyawarah Nasional 1994, Gus Dur menominasikan dirinya untuk masa jabatan ketiga. Mendengar hal itu, Soeharto ingin agar Wahid tidak terpilih. Pada minggu-minggu sebelum munas, pendukung Soeharto, seperti Habibie dan [[Harmoko]] berkampanye melawan terpilihnya kembali Gus Dur. Ketika musyawarah nasional diadakan, tempat pemilihan dijaga ketat oleh [[ABRI]] dalam tindakan intimidasi.<ref>Barton (2002), halaman 203</ref> Terdapat juga usaha menyuap anggota NU untuk tidak memilihnya. Namun, Gus Dur tetap terpilih sebagai ketua NU untuk masa jabatan ketiga. Selama masa ini, Gus Dur memulai aliansi politik dengan [[Megawati Soekarnoputri]] dari [[Parté Dhémokrasi Indonésia]] (PDI). Megawati yang menggunakan nama ayahnya memiliki popularitas yang besar dan berencana tetap menekan rezim Soeharto. Wahid menaséhati Megawati untuk berhati-hati dan menolak dipilih sebagai Presiden untuk Sidang Umum MPR 1998. Megawati mengacuhkannya dan harus membayar mahal ketika pada Juli 1996 markas PDInya diambil alih oleh pendukung Ketua PDI yang didukung pemerintah, Soerjadi.
 
Melihat apa yang terjadi terhadap Megawati, Gus Dur berpikir bahwa pilihan terbaiknya sekarang adalah mundur secara politik dengan mendukung pemerintah. Pada November 1996, Wahid dan Soeharto bertemu pertama kalinya sejak pemilihan kembali Gus Dur sebagai ketua NU dan beberapa bulan berikutnya diikuti dengan pertemuan dengan berbagai tokoh pemerintah yang pada tahun 1994 berusaha menghalangi pemilihan kembali Gus Dur.<ref>Barton (2002), halaman 221-222</ref> Pada saat yang sama, Gus Dur membiarkan pilihannya untuk melakukan reformasi tetap terbuka dan pada Desember 1996 bertemu dengan [[Amien Rais]], anggota ICMI yang kritis terhadap kebijakan-kebijakan pemerintah.
 
Juli 1997 merupakan awal dari [[Krisis Finansial Asia]]. Soeharto mulai kehilangan kendali atas situasi tersebut. Gus Dur didorong untuk melakukan reformasi dengan Megawati dan Amien, namun ia terkena [[stroke]] pada Januari 1998. Dari rumah sakit, Wahid melihat situasi terus memburuk dengan pemilihan kembali Soeharto sebagai Presiden dan protes mahasiswa yang menyebabkan terjadinya [[kerusuhan Mei 1998]] setelah penembakan enam mahasiswa di [[Universitas Trisakti]]. Pada tanggal 19 Mei 1998, Gus Dur, bersama dengan delapan pemimpin penting dari komunitas Muslim, dipanggil ke kediaman Soeharto. Soeharto memberikan konsep Komite Reformasi yang ia usulkan. 9 pemimpin tersebut menolak untuk bergabung dengan Komite Reformasi. Gus Dur memiliki pendirian yang lebih moderat dengan Soeharto dan meminta demonstran berhenti untuk melihat apakah Soeharto akan menepati janjinya.<ref>Barton (2002), halaman 243</ref> Hal tersebut tidak disukai Amien, yang merupakan oposisi Soeharto yang paling kritis pada saat itu. Namun, Soeharto mengumumkan pengunduran dirinya pada tanggal 21 Mei 1998. Wakil Presiden Habibie menjadi presiden menggantikan Soeharto.
 
== Kepresidenan ==
[[Berkas:Abdurrahman Wahid - World Economic Forum Annual Meeting Davos 2000.jpg|thumb|right|200px|Abdurrahman Wahid di Forum Ekonomi Dunia tahun 2000.]]
==== Perjalanan ====
Kepresidenan Gus Dur terkenal akan perjalanan jarak jauhnya, termasuk ke tempat-tempat kontroversial. Pada November 1999, Wahid mengunjungi nagara-nagara anggota [[ASEAN]], [[Jepang]], [[Amerika Serikat]], [[Qatar]], [[Kuwait]], dan [[Yordania]]. Setelah itu, pada bulan Desember, ia mengunjungi [[Républik Rakyat Cina]].<ref>Barton (2002), halaman 288-290</ref>
 
Pada Januari 2000, Gus Dur melakukan perjalanan keluar negeri lainnya ke [[Swiss]] untuk menghadiri [[Forum Ekonomi Dunia]] dan mengunjungi [[Arab Saudi]] dalam perjalanan pulang menuju Indonésia. Pada Februari, Wahid melakukan perjalanan luar negeri ke Éropah lainnya dengan mengunjungi [[Kerajaan Inggris|Inggris]], [[Perancis]], [[Walanda]], [[Jerman]], dan [[Italia]]. Dalam perjalanan pulang dari Éropah, Gus Dur juga mengunjungi [[India]], [[Korea Selatan]], [[Thailand]], dan [[Brunei Darussalam]]. Pada bulan Maret, Gus Dur mengunjungi [[Timor Leste]]. Di bulan April, Wahid mengunjungi [[Afrika Selatan]] dalam perjalanan menuju [[Kuba]] untuk menghadiri pertemuan [[G-77]], sebelum kembali melewati [[Kota Meksiko]] dan [[Hong Kong]]. Pada bulan Juni, Wahid sekali lagi mengunjungi Amerika, Jepang, dan Perancis dengan [[Iran]], [[Pakistan]], dan [[Mesir]] sebagai tambahan baru ke dalam daftar nagara-nagara yang dikunjunginya.<ref>Barton (2002), halaman 294, hal. 297-298, hal.308</ref>
 
Wahid juga mengunjungi [[Irian Jaya]] dan [[Aceh]], propinsi Indonésia yang memiliki banyak gerakan separatis, yang mengundang kontroversi. Gusdur juga menimbulkan kontroversi dengan kunjungannya ke [[Israèl]], nagara yang tidak disukai banyak orang Indonésia.
 
== Kehidupan pribadi ==
Wahid punikah dengan Sinta Nuriyah dan dikaruniai empat orang anak: Alissa Qotrunnada, [[Yenny Wahid|Zannuba Ariffah Chafsoh (Yenny)]], Anita Hayatunnufus, dan Inayah Wulandari.
 
== Penghargaan ==
Wahid ditahbiskan sebagai "Bapak Tionghoa" oleh beberapa tokoh [[Tionghoa]] [[Semarang]] di Kelenteng Tay Kak Sie, Gang Lombok, yang selama ini dikenal sebagai kawasan [[Pecinan]] pada tanggal [[10 Maret]] [[2004]].<ref name="qurtuby"/>
 
Pada [[11 Agustus]] [[2006]], [[Gadis Arivia]] dan Gus Dur mendapatkan [[Tasrif Award-AJI]] sebagai Pejuang Kebebasan Pers 2006.<ref>[http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2006/bulan/08/tgl/11/time/062049/idnews/653988/idkanal/10 Gus Dur dan Gadis Arivia Raih Tasrif Award-AJI 2006], detik.com</ref> Penghargaan ini diberikan oleh [[Aliansi Jurnalis Independen]] (AJI). Gus Dur dan Gadis dinilai memiliki semangat, visi, dan komitmen dalam memperjuangkan kebebasan berekpresi, persamaan hak, semangat keberagaman, dan dhémokrasi di Indonésia. Gus Dur dan Gadis dipilih oleh dewan juri yang terdiri dari budayawan [[Butet Kertaradjasa]], pemimpin redaksi [[The Jakarta Post]] [[Endy Bayuni]], dan Ketua [[Komisi Nasional Perempuan]] [[Chandra Kirana]]. Mereka berhasil menyisihkan 23 kandidat lain. Penghargaan Tasrif Award bagi Gus Dur menuai protes dari para wartawan yang hadir dalam acara jumpa pers itu.<ref name="kapantasrif">{{cite web
| last =
| first =
| authorlink =
| coauthors =
| year =
| url = http://www.kapanlagi.com/h/0000129023.html
| title = Tasrif Award Buat Gus Dur Menuai Protes
| format =
| work =
| publisher = [[KapanLagi.com]]
| accessdate = [[19 Juni]]
| accessyear = 2008
| quote =
}} </ref> Seorang wartawan mengatakan bahwa hanya karena upaya Gus Dur menentang RUU Anti Pornoaksi dan Pornografi, ia menerima penghargaan tersebut. Sementara wartawan lain seperti [[Ati Nurbaiti]], mantan Ketua Umum AJI Indonésia dan wartawan [[The Jakarta Post]] membantah dan menanyakan hubungan perjuangan Wahid menentang RUU APP dengan kebebasan pers.<ref name="kapantasrif"/>
Ia mendapat penghargaan dari Simon Wiethemthal Center, sebuah yayasan yang bergerak di bidang penegakan [[Hak Asasi Manusia]]. Wahid mendapat penghargaan tersebut karena menurut mereka ia merupakan salah satu tokoh yang peduli terhadap persoalan HAM.<ref name="penghargaanmengalir">{{cite web
| last =
| first =
| authorlink =
| coauthors =
| year =
| url = http://news.okezone.com/index.php/ReadStory/2008/05/05/1/106394/gus-dur-raih-tiga-penghargaan-internasional
| title = Gus Dur Raih Tiga Penghargaan Internasional
| format =
| work =
| publisher = Okezone
| accessdate = [[19 Juni]]
| accessyear = 2008
| quote =
}}</ref><ref>{{cite web
| last =
| first =
| authorlink =
| coauthors =
| year =
| url = http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2008/bulan/05/tgl/03/time/153747/idnews/933397/idkanal/10
| title = Terima Penghargaan, Gus Dur Terbang ke AS
| format =
| work =
| publisher = detik.com
| accessdate = [[19 Juni]]
| accessyear = 2008
| quote =
}} </ref> Gus Dur antuk penghargaan saka ''Mebal Valor'' yang berkantor di Los Angeles karena Wahid dinilai memiliki keberanian membela kaum minoritas, salah satunya dalam membela umat beragama [[Konghucu]] di Indonésia dalam memperoleh hak-haknya yang sempat terpasung selama era [[orde baru]].<ref name="penghargaanmengalir"/> Wahid juga memperoleh penghargaan dari [[Universitas Temple]]. Namanya diabadikan sebagai nama nama kelompok studi ''Abdurrahman Wahid Chair of Islamic Study''.<ref name="penghargaanmengalir"/>
-->
 
Gus Dur tilar donya dina Rebo tanggal 30 Desember 2009.<ref>[http://www.detiknews.com/read/2009/12/31/035939/1269058/10/gerbang-rumah-duka-dibuka-warga-bisa-salati-jenazah-gus-dur Gus Dur tilar donya]</ref>
348.872

besutan