Ka'bah: Béda antara owahan

8.306 bèt wis dibusak ,  3 taun kepungkur
tanpa ringkesan besutan
(→‎Sajarah perkembangan: Ndandani paramasastra)
Tenger: Besutan punsèl Besutan aplikasi punsèl Besutan aplikasi Android
Tidak ada ringkasan suntingan
 
Sabanjuré wangunan Kakbah diurus lan diopèni déning [[Bani Sya'ibah]] minangka juru kunci Kakbah lan administrasi sarta palayanan kaji diatur déning pamaréntahan [[kalipah]] [[Abu Bakar]], [[Umar bin Khattab]], [[Utsman bin Affan]], [[Ali bin Abi Thalib]], [[Muawwiyah bin Abu Sufyan]], Wangsa [[Ummayyah]], Wangsa [[Abbasiyyah]], Wangsa [[Usmaniyah]] Turki, nganti wektu iki yakuwi pamaréntah karajan [[Arab Saudi]] kang tumindak minangka palayan loro kutha suci, Mekah lan Madinah.
<!--
== Bangunan Ka'bah ==
Pada awalnya bangunan Ka'bah terdiri atas dua pintu serta letak pintu ka'bah terletak diatas tanah , tidak seperti sekarang yang pintunya terletak agak tinggi sebagaimana pondasi yang dibuat Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Namun ketika Renovasi Ka'bah akibat bencana banjir pada saat Muhammad SAW berusia 30 tahun dan sebelum diangkat menjadi rasul, karena merenovasi ka'bah sebagai bangunan suci harus menggunakan harta yang halal dan bersih, sehingga pada saat itu terjadi kekurangan biaya. Maka bangunan ka'bah dibuat hanya satu pintu serta ada bagian ka'bah yang tidak dimasukkan ke dalam bangunan ka'bah yang dinamakan [[Hijir Ismail]] yang diberi tanda setengah lingkaran pada salah satu sisi ka'bah. Saat itu pintunya dibuat tinggi letaknya agar hanya pemuka suku [[Quraisy]] yang bisa memasukinya. Karena suku Quraisy merupakan suku atau kabilah yang sangat dimuliakan oleh bangsa Arab.
 
Karena kaumnya baru saja masuk Islam, maka Nabi Muhammad SAW mengurungkan niatnya untuk merenovasi kembali ka'bah sehinggas ditulis dalam sebuah hadits perkataan beliau: "Andaikata kaumku bukan baru saja meninggalkan kekafiran, akan Aku turunkan pintu ka'bah dan dibuat dua pintunya serta dimasukkan Hijir Ismail kedalam Ka'bah", sebagaimana pondasi yang dibangun oleh Nabi Ibrahim.
 
Ketika masa [[Abdurrahman bin Zubair]] memerintah daerah [[Hijaz]], bangunan itu dibuat sebagaimana perkataan Nabi Muhammad SAW atas pondasi Nabi Ibrahim. Namun karena terjadi peperangan dengan [[Abdul Malik bin Marwan]], penguasa daerah Syam ([[Suriah]],[[Yordania]] dan [[Lebanon]] sekarang) dan [[Palestina]], terjadi kebakaran pada Ka'bah akibat tembakan peluru pelontar (''onager'') yang dimiliki pasukan Syam. Sehingga Abdul Malik bin Marwan yang kemudian menjadi khalifah, melakukan renovasi kembali Ka'bah berdasarkan bangunan hasil renovasi Nabi Muhammad SAW pada usia 30 tahun bukan berdasarkan pondasi yang dibangun Nabi Ibrahim. Dalam sejarahnya Ka'bah beberapa kali mengalami kerusakan sebagai akibat dari peperangan dan umur bangunan.
 
Ketika masa pemerintahan khalifah [[Harun Al Rasyid]] pada masa kekhalifahan Abbasiyyah, khalifah berencana untuk merenovasi kembali ka'bah sesuai pondasi Nabi Ibrahim dan yang diinginkan Nabi Muhammad SAW. namun segera dicegah oleh salah seorang ulama terkemuka yakni [[Imam Malik]] karena dikhawatirkan nanti bangunan suci itu dijadikan ajang bongkar pasang para penguasa sesudah beliau. Sehingga bangunan Ka'bah tetap sesuai masa renovasi khalifah Abdul Malik bin Marwan sampai sekarang.
 
== Penentuan Arah Kiblat / Ka'bah ==
 
Untuk menentukan arah kiblat dengan cukup presisi dapat dilakukan dengan merujuk pada kordinat Bujur / Lintang dari lokasi Ka'bah di Mekkah terhadap masing-masing titik lokasi orientasi dengan menggunakan perangkat [[GPS]]. Untuk kebutuhan tersebut dapat digunakan hasil pengukuran kordinat Ka'bah berikut sebagai referensi penentuan arah kiblat.
Lokasi Ka'bah,
* 21°25‘21.2“ Lintang Utara
* 039°49‘34.1“ Bujur Timur
* Elevasi 304 meter (ASL)
 
Adapun cara sederhana dapat pula dilakukan untuk melakukan penyesuaian arah [[kiblat]]. Pada saat-saat tertentu dua kali satu [[tahun]], [[Matahari]] tepat berada di atas [[Mekkah]] ([[Ka'bah]]). Sehingga jika pengamat pada saat tersebut melihat ke [[Matahari]], dan menarik garis lurus dari [[Matahari]] memotong [[ufuk]]/[[horizon]] tegak lurus, pengamat akan mendapatkan posisi tepat arah [[kiblat]] tanpa harus melakukan perhitungan sama sekali, asal pengamat tahu kapan tepatnya [[Matahari]] berada di atas [[Mekkah]]. Tiap [[tahun]], [[Matahari]] berada pada posisi tepat di atas [[Mekkah]] pada [[tanggal]] '''[[28 Mei]] pukul 16:18 [[WIB]]''' dan [[tanggal]] '''[[16 Juli]] pukul 16:27 [[WIB]]'''.
 
[[Bumi]] berputar pada sumbu [[rotasi]]nya dengan periode 24 [[jam]]. Bagi pengamat yang berada di [[Bumi]], efek yang diamati dari gerak [[rotasi]] adalah benda-benda [[langit]] terlihat seolah-olah berputar mengelilingi [[Bumi]] dengan arah gerak berlawanan dengan arah [[rotasi]] [[Bumi]]. [[bintang|Bintang-bintang]] terlihat bergerak dari [[timur]] ke [[barat]]. Ini mirip dengan gerak [[pohon|pohon-pohon]] yang diamati saat mengendarai [[mobil]], seolah-olah [[pohon|pohon-pohon]] itu bergerak berlawanan arah dengan gerak [[mobil]]. Efek rotasi ini menyebabkan pengamat mengamati [[benda|benda-benda]] [[langit]] (termasuk [[Matahari]]) terbit di [[timur]] dan terbenam di [[barat]].
 
Sementara itu, [[Bumi]] mengedari [[Matahari]] dengan periode 1 [[tahun]]. Akibatnya, relatif terhadap [[bintang|bintang-bintang]] pada [[bola]] [[langit]], [[Matahari]] sendiri terlihat berubah posisinya dari [[hari]] ke [[hari]], dan setelah satu [[tahun]], kembali ke posisi semula. [[Matahari]] bergerak kurang lebih ke arah [[timur]]. Namun karena bidang edar [[Bumi]] ([[ekliptika]]) tidak sebidang dengan bidang [[rotasi]] [[Bumi]] ([[Ekuator]] [[langit]]), maka gerak [[Matahari]] tadi pun tidak tepat ke arah [[timur]], tetapi membentuk [[Sudut (geometri)|sudut]] 23,5º, sesuai dengan besar [[Sudut (geometri)|sudut]] antara [[ekliptika]] dan [[ekuator]] [[langit]].
 
Dari [[Bumi]], pengamat melihat seolah-olah [[Matahari]] mengitari [[Bumi]]. Pengamat melihat [[Matahari]] mengitari [[Bumi]] pada bidang [[ekliptika]]. Karena Bidang [[ekliptika]] membentuk [[Sudut (geometri)|sudut]] terhadap bidang [[ekuator]] [[Bumi]], dalam [[interval]] satu [[tahun]] itu, [[Matahari]] pada satu saat berada di [[utara]] [[ekuator]], dan disaat yang lain berada di [[selatan]] [[ekuator]]. [[Matahari]] bisa sampai sejauh 23,5º dari [[ekuator]] ke arah [[utara]] pada sekitar [[tanggal]] [[22 Juni]]. Enam [[bulan]] kemudian, sekitar [[tanggal]] [[22 Desember]], [[Matahari]] berada 23,5º dari [[ekuator]] ke arah [[selatan]]. Antara [[22 Juni]] dan [[22 Desember]], [[Matahari]] bergerak ke arah [[selatan]] [[ekuator]], bergerak relatif terhadap [[bintang|bintang-bintang]]. Sedangkan antara tanggal [[22 Desember]] dan [[22 Juni]], [[Matahari]] bergerak ke arah [[utara]] [[ekuator]].
 
Karena gerak tahunannya tersebut dikombinasikan dengan gerak terbit terbenam [[Matahari]] akibat [[rotasi]] [[Bumi]], maka [[Matahari]] menyapu daerah-daerah yang memiliki [[garis lintang|lintang]] antara 23,5º LU dan 23,5º LS. Pada daerah-daerah di permukaan [[Bumi]] yang memiliki [[garis lintang|lintang]] dalam rentang tersebut, [[Matahari]] dua kali setahun akan berada kurang lebih tepat di atas [[kepala]]. Karena [[Mekkah]] memiliki [[garis lintang|lintang]] 21º 26' LU, yang berarti berada dalam daerah yang disebutkan di atas, maka dua kali dalam setahun, [[Matahari]] akan tepat berada di atas [[kota]] [[Mekkah]]. Kapan hal ini terjadi, bisa dilihat dalam [[almanak]], misalnya ''Astronomical Almanac''.
 
Penentuan arah [[kiblat]] dengan cara melihat langsung posisi [[Matahari]] seperti yang disebutkan di atas (pada [[tanggal|tanggal-tanggal]] tertentu yang disebutkan di atas), tidaklah bisa dilakukan di semua tempat. Sebabnya karena wujud [[Bumi]] yang [[bundar]]. Tempat-tempat yang bisa menggunakan cara di atas untuk penentuan arah [[kiblat]] adalah tempat-tempat yang terpisah dengan [[Mekkah]] kurang dari 90º. Pada tempat-tempat yang terpisah
dari [[Mekkah]] lebih dari 90º, saat [[Matahari]] tepat berada di [[Mekkah]], [[Matahari]] (dilihat dari tempat tersebut) telah berada di bawah [[horizon]]. Misalnya untuk posisi pengamat di [[Bandung]], saat [[Matahari]] tepat di atas [[Mekkah]] (tengah hari), dilihat dari [[Bandung]], posisi [[Matahari]] sudah cukup rendah, kira-kira 18º di atas [[horizon]]. Sedangkan bagi daerah-daerah di Indonesia Timur, saat itu [[Matahari]] telah terbenam, sehingga praktis momen itu tidak bisa digunakan di sana. Bagi tempat-tempat yang saat [[Matahari]] tepat berada di atas [[Ka'bah]], [[Matahari]] telah berada di bawah [[ufuk]]/[[horizon]], bisa menunggu 6 [[bulan]] kemudian. Pada tiap [[tanggal]] [[28 November]] 21:09 UT ('''[[29 November]] 04:09 WIB''') dan [[16 Januari]] 21:29 UT ('''[[17 Januari]] 04:29 WIB'''), [[Matahari]] tepat berada di bawah [[Ka'bah]]. Artinya, pada saat tersebut, jika pengamat tepat menghadap ke arah [[Matahari]], pengamat tepat membelakangi arah [[kiblat]]. Jika pengamat memancangkan tongkat tegak lurus, maka arah jatuh [[bayangan]] tepat ke arah [[kiblat]].
-->
 
== Pranala njaba ==
{{Commons|Kaaba}}
63.849

besutan