Radèn Wijaya: Béda antara owahan

7 bèt wis ditambahake ,  4 taun kepungkur
éjaan using AWB
c (→‎Masa Pamaréntahan: éjaan, replaced: Pemerintah → Pamaréntah using AWB)
(éjaan using AWB)
Raden Wijaya dalam prasasti Balawi tahun [[1305]] menyatakan dirinya sebagai anggota [[Wangsa Rajasa]]. Menurut ''[[Nagarakretagama]]'', Wijaya adalah putra [[Dyah Lembu Tal]], putra [[Narasinghamurti]]. Menurut ''[[Pararaton]]'', Narasinghamurti alias Mahisa Campaka adalah putra [[Mahisa Wonga Teleng]] putra [[Ken Arok]] pendiri Wangsa Rajasa. <ref name="SNI410">Poesponegoro & Notosusanto, hlm. 410.</ref>.
 
Menurut prasasti Balawi dan ''Nagarakretagama'', Raden Wijaya menikahpunikah dengan empat orang putri [[Kertanagara]], raja terakhir [[Kerajaan Singhasari]], yaitu [[Tribhuwaneswari]], [[Narendraduhita]], [[Jayendradewi]], dan [[Gayatri]]. Sedangkan menurut ''Pararaton'', ia hanya menikahipunikahi dua orang putri Kertanagara saja, serta seorang putri dari [[Kerajaan Malayu]] bernama [[Dara Petak]], yaitu salah satu dari dua putri yang dibawa kembali dari [[Melayu]] oleh pasukan yang dulunya dikirim oleh Kertanagara yang dikenal dengan nama [[Ekspedisi Pamalayu]] pada masa kerajaan [[Singhasari]]. Dara Petak merupakan salah seorang putri [[Srimat Tribhuwanaraja Mauliwarmadewa]] Raja Melayu dari [[Kerajaan Dharmasraya]] <ref name="Muljana">Slamet Muljana, 2005, ''Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Nagara-nagara Islam di Nusantara'', Yogyakarta: LKiS, ISBN 979-98451-16-3.</ref>.
 
Menurut prasasti Sukamerta dan prasasti Balawi, Raden Wijaya memiliki seorang putra dari Tribhuwaneswari bernama [[Jayanagara]].<ref name="SNI427">Poesponegoro & Notosusanto, hlm. 427.</ref>Sedangkan Jayanagara menurut ''Pararaton'' adalah putra Dara Petak, dan menurut ''Nagarakretagama'' adalah putra Indreswari. Sementara itu, dari Gayatri lahir dua orang putri bernama [[Dyah Gitarja]] dan [[Dyah Wiyat]].
Menyadari hal itu, Raden Wijaya melarikan diri hendak berlindung ke Terung di sebelah utara Singhasari. Namun karena terus dikejar-kejar musuh ia memilih pergi ke arah timur. Dengan bantuan kepala désa Kudadu, ia berhasil menyeberangi Selat Madura untuk bertemu [[Arya Wiraraja]] penguasa ''Songeneb'' (nama lama [[Sumenep]]).
 
Bersama Arya Wiraraja, Raden Wijaya merencanakan siasat untuk merebut kembali takhta dari tangan Jayakatwang. Wijaya berjanji, jika ia berhasil mengalahkan Jayakatwang, maka daerahlaladan kekuasaannya akan dibagi dua untuk dirinya dan Wiraraja. Siasat pertama pun dijalankan. Mula-mula, Wiraraja menyampaikan berita kepada Jayakatwang bahwa Wijaya menyatakan menyerah kalah. Jayakatwang yang telah membangun kembali negeri leluhurnya, yaitu [[Kerajaan Kadiri]] menerimanya dengan senang hati. Ia pun mengirim utusan untuk menjemput Wijaya di pelabuhan Jungbiru.
 
Siasat berikutnya, Wijaya meminta Hutan Tarik di sebelah timur Kadiri untuk dibangun sebagai kawasan wisata perburuan. Wijaya mengaku ingin bermukim di sana. Jayakatwang yang gemar berburu segera mengabulkannya tanpa curiga. Wiraraja pun mengirim orang-orang Songeneb untuk membantu Wijaya membuka hutan tersebut. Menurut ''Kidung Panji Wijayakrama'', salah seorang Madura menemukan buah maja yang rasanya pahit. Oleh karena itu, désa pemukiman yang didirikan Wijaya tersebut pun diberi nama [[Majapahit]].
Raden Wijaya memanfaatkan [[Invasi Yuan-Mongol ke Jawa|kedatangan pasukan Mongol]] ini untuk menghancurkan [[Jayakatwang]]. Ia pun mengundang Ike Mese untuk memberi tahu bahwa dirinya adalah ahli waris Kertanagara yang sudah tewas. Wijaya meminta bantuan untuk merebut kembali kekuasaan Pulau Jawa dari tangan Jayakatwang, dan setelah itu baru ia bersedia menyatakan tunduk kepada bangsa Mongol.
 
Jayakatwang yang mendengar persekutuanpersekuthuan Wijaya dan Ike Mese segera mengirim pasukan Kadiri untuk menghancurkan mereka. Namun pasukan itu justru berhasil dikalahkan oleh pihak Mongol. Selanjutnya, gabungan pasukan Mongol dan Majapahit serta Madura bergerak menyerang [[Daha]], ibu kota Kerajaan Kadiri. Jayakatwang akhirnya menyerah dan ditawan dalam kapal Mongol.
 
Setelah Jayakatwang dikalahkan, Wijaya meminta izin untuk kembali ke Majapahit mempersiapkan penyerahan dirinya. Ike Mese mengizinkannya tanpa curiga. Sesampainya di Majapahit, Wijaya membunuh para prajurit Mongol yang mengawalnya. Ia kemudian memimpin serangan balik ke arah Daha di mana pasukan Mongol sedang berpesta kemenangan. Serangan mendadak itu membuat Ike Mese kehilangan banyak prajurit dan terpaksa menarik mundur pasukannya meninggalkan Jawa.
Dalam memerintah Majapahit, Wijaya mengangkat para pengikutnya yang dulu setia dalam perjuangan. [[Nambi]] diangkat sebagai [[patih]] [[Majapahit]], [[Lembu Sora]] sebagai [[patih]] [[Daha]], [[Arya Wiraraja]] dan [[Ranggalawe]] sebagai pasangguhan. Pada tahun [[1294]] Wijaya juga memberikan anugerah kepada pemimpin désa Kudadu yang dulu melindunginya saat pelarian menuju [[Pulau Madura]].
 
Pada tahun [[1295]] seorang tokoh licik bernama [[Mahapati]] menghasut Ranggalawe untuk memberontak. Pemberontakan ini dipicu oleh pengangkatan Nambi sebagai patih, dan menjadi perang saudara pertama yang melanda Majapahit. Setelah Ranggalawe tewas, Wiraraja mengundurkan diri dari jabatannya sebagai pasangguhan. Ia menagih janji Wijaya tentang pembagian wilayahwewengkon kerajaan. Wijaya mengabulkannya. Maka, sejak saat itu, wilayahwewengkon kerajaan pun hanya tinggal setengah, di mana yang sebelah timur dipimpin oleh Wiraraja dengan ibu kota di Lamajang (nama lama [[Lumajang]]).
 
Pada tahun [[1300]] terjadi peristiwa pembunuhan Lembu Sora, paman Ranggalawe. Dalam pemberontakan Ranggalawe, Sora memihak Majapahit. Namun, ketika Ranggalawe dibunuh dengan kejam oleh [[Kebo Anabrang]], Sora merasa tidak tahan dan berbalik membunuh Anabrang. Peristiwa ini diungkit-ungkit oleh Mahapati sehingga terjadi suasana perpecahan. Pada puncaknya, Sora dan kedua kawannya, yaitu Gajah Biru dan Jurudemung tewas dibantai kelompok Nambi di halaman istana.
* ''Babad Tanah Jawi, Mulai dari Nabi Adam Sampai Tahun 1647''. (terj.). 2007. Yogyakarta: Narasi
* Marwati Poesponegoro & Nugroho Notosusanto. 1990. ''Sejarah Nasional Indonesia Jilid II''. Jakarta: Balai Pustaka
* R.M. Mangkudimedja. 1979. ''Serat Pararaton Jilid 2''. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan DaerahLaladan
* [[Slamet Muljana]]. 2005. ''Menuju Puncak Kemegahan'' (terbitan ulang 1965). Yogyakarta: LKIS
* Slamet Muljana. 1979. ''Nagarakretagama dan Tafsir Sejarahnya''. Jakarta: Bhratara
352.730

besutan